
Jangan Biarkan Senyuman Sudan Menghilang
Dana Tersedia
Rp 0
Cerita Penggalangan Dana
6 Nov 2025Sudan sedang menangis bukan karena hujan, bukan karena badai, tetapi karena manusia kembali melawan manusia. Sejak April 2023, tanah yang dulu subur itu berubah menjadi lautan duka. Ledakan menggantikan nyanyian pagi, dan tangisan anak-anak menggantikan tawa di jalanan yang dulu ramai. Setiap hari, langit Sudan diselimuti asap dan jerit kesakitan. Setiap malam, bumi menjadi saksi darah yang tak kunjung kering.
Jutaan warga sipil kehilangan rumah, kehilangan keluarga, kehilangan harapan. Lebih dari 8,6 juta jiwa terpaksa meninggalkan segalanya tanah kelahiran, rumah yang mereka bangun dengan cinta, Mereka pergi, hanya berbekal doa dan air mata, tanpa tahu ke mana langkah kaki akan berujung. Dalam hitungan minggu, ribuan nyawa melayang ebih dari 2000 orang tewas, 260.000 terjebak dalam kota yang hancur, dan entah berapa ribu lagi yang hilang, lenyap tanpa kabar, mungkin tertimbun di antara puing-puing atau terhempas di jalan tanpa nama.

Di tenda pengungsian,kehidupan berubah menjadi perjuangan untuk sekadar bertahan. Ribuan, bahkan jutaan orang tidur beralaskan tanah yang dingin dan keras. Setiap malam, tubuh-tubuh kurus itu menggigil, bukan hanya karena angin, tetapi karena lapar yang tak kunjung pergi. Mereka telah lupa seperti apa rasanya kenyang. Makanan datang hanya sekali dalam beberapa hari atau tidak datang sama sekali. Setiap remah roti menjadi harapan, setiap tetes air menjadi kehidupan.
Lebih dari tiga juta anak kini hidup dalam kelaparan akut. Mata mereka kosong, kulit mereka menempel di tulang, dan bibir mereka pecah karena kehausan. Mereka tidak menunggu mainan, tidak menunggu sekolah melainkan mereka hanya menunggu keajaiban. Sesuap makanan untuk bertahan sehari lagi. Air yang mereka minum pun diambil dari genangan keruh, dari tanah yang sama di mana darah tumpah.

Dan di tengah semua penderitaan itu, waktu seakan berhenti. Tidak ada pagi yang benar-benar membawa cahaya, tidak ada malam yang memberi ketenangan. Dunia berjalan seperti biasa, sementara Sudan perlahan tenggelam dalam kesunyian dan rasa sakit.

Mereka tidak meminta banyak,mereka tidak meminta kemewahan, tidak meminta istana, tidak meminta dunia berlutut. Mereka hanya meminta uluran tangan, seberkas kasih, secuil harapan dari mereka yang masih memiliki lebih banyak dari sekadar doa.
Mari, jangan biarkan air mata Sudan mengering tanpa makna.
Mari bersama bantu saudara-saudara kita di Sudan yang tengah berjuang bukan untuk hidup mewah, tetapi hanya untuk tetap hidup.
Berita terbaru
Belum ada update untuk campaign ini.
Donatur
Fisaa
Rp 25.000
14 hari lalu
Nirlawati
Rp 100.000
14 hari lalu
Siti Zubaidah
Rp 30.000
14 hari lalu
Siti Zubaidah
Rp 30.000
14 hari lalu
Kamariah
Rp 50.000
14 hari lalu
Puji Hastuti Handayani
Rp 50.027
14 hari lalu
Siti Zubaidah
Rp 30.000
14 hari lalu
Rohani
Rp 100.000
14 hari lalu
Hamba Allah
Rp 100.000
14 hari lalu
Hamba Allah
Rp 35.000
14 hari lalu